Suka pamer kemewahan di sosmed? Siap-siap “dicyduk” oleh DitJen Pajak.

Post Image
15 Jan 2019

Direktur Jenderal Pajak (DJP) sebagai Otoritas Perpajakan di Indonesia, telah memiliki teknologi yang mampu untuk melacak dan memantau data-data pengguna media sosial untuk dicocokan dengan data perpajakan yang telah dilaporkan ke DJP, apa sudah sesuai atau belum.

Seperti dikutip dari cnnindonesia.com, teknologi ini bernama social network analytics (SONETA), teknologi ini dapat menganalisis penyandingan data baik untuk pajak penghasilan (PPh) maupun pajak pertambahan nilai (PPN).

Meskipun sudah diluncurkan sejak satu tahun yang lalu, sayangnya teknologi ini masih digunakan oleh fiskus pajak untuk keperluan internal DJP saja. Hal ini dilakukan untuk menghindari keresahan yang mungkin akan timbul karena data yang dihimpun tidak akurat.

Saat ini fiskus pajak atau Account Representatives (AR) melakukan penggalian data Wajib Pajak di media sosial masih menggunakan cara manual atau belum memanfaatkan teknologi infomasi.

"Penggalian potensi dari media sosial secara tersistem dan masif belum dilakukan karena kami harus sangat hati-hati dengan pertimbangan integritas data dan manajemen data," ujar Iwan Djuniardi selaku Direktur Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi DJP, berdasarkan artikel yang kami kutip dari situs cnnindonesia.com.

Hanya illustrasi bukan akun sebenarnya

Cara kerja dari sistem SONETA ini adalah dengan memantau secara ketat aktifitas Wajib Pajak di media sosial, terutama mereka yang suka mengunggah foto-foto kekayaan di akun media sosial yang dimilikinya seperti di instagram, facebook dan lainnya. Data yang didapat akan dijadikan indikator untuk memperkirakan kekayaan seseorang.

Data inilah yang akan dicocokan oleh para fiskus pajak dengan laporan kewajiban perpajakan yang dimiliki oleh DJP, apakah data yang selama ini dilaporkan ke DJP sudah sesuai atau belum. Jika perkiraan penghasilan dan pajak yang dilaporkan tidak sesuai, DJP berhak menyelidiki pajak Wajib Pajak yang bersangkutan.